Ketapang, 29 Juli 2025 — Proyek peningkatan infrastruktur jalan strategis yang menghubungkan Nanga Tayap – Sei Kelik – Siduk – Ketapang di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, resmi mengalami penundaan pada tahun anggaran 2025. Hal ini disebabkan oleh kebijakan efisiensi anggaran yang diberlakukan pemerintah pusat guna menjaga stabilitas fiskal nasional.
Ruas jalan sepanjang lebih dari 13 kilometer ini merupakan jalur vital yang mendukung aktivitas masyarakat, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, hingga akses layanan kesehatan. Namun hingga kini, sebagian besar jalannya masih berupa jalan tanah yang belum memiliki lapisan perkerasan memadai.
Menurut Sri Bintang Pamungkas, Pelaksana Jalan dan Jembatan dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat, upaya peningkatan struktur jalan telah direncanakan secara bertahap, namun terpaksa ditunda karena terbatasnya alokasi anggaran.
“Kami sudah menyusun rencana lanjutan untuk peningkatan ruas jalan ini pada awal 2025. Sayangnya, dengan diberlakukannya efisiensi anggaran, dana yang telah dialokasikan mengalami pemblokiran, sehingga pekerjaan belum bisa dilanjutkan,” ujar Sri Bintang saat diwawancarai di Ketapang, Selasa (29/7).
Preservasi Jadi Solusi Sementara
Meski proyek peningkatan jalan terhenti sementara, BPJN Kalbar memastikan bahwa ruas jalan tersebut tetap dalam kondisi fungsional. Melalui program preservasi jalan dan jembatan, pihaknya menjalankan serangkaian pekerjaan pemeliharaan rutin guna mencegah kerusakan lebih lanjut.
Preservasi dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti:
- Pembersihan saluran drainase secara berkala untuk mencegah genangan air
- Penambalan lubang-lubang kecil dan perataan badan jalan
- Penataan ulang material jalan yang bergeser
- Pemangkasan vegetasi liar di tepi jalan
- Pemasangan rambu peringatan di titik rawan kecelakaan
“Preservasi bukan hanya tindakan sementara, tetapi strategi kami agar jalan tetap bisa dilalui oleh masyarakat tanpa risiko berbahaya. Kami ingin memastikan konektivitas antarwilayah tetap terjaga meskipun peningkatan belum bisa dilakukan,” lanjut Sri Bintang.
Pencapaian Tahun 2024 Jadi Tonggak Awal
Sebelum mengalami kendala pada tahun ini, proyek peningkatan ruas jalan Nanga Tayap–Sei Kelik sempat menunjukkan progres positif. Pada tahun 2024, BPJN Kalbar berhasil menyelesaikan peningkatan jalan sepanjang 2 kilometer. Pekerjaan tersebut mencakup penguatan struktur jalan dari tanah menjadi lapisan perkerasan yang lebih stabil, pembangunan sistem drainase, serta perbaikan beberapa jembatan kecil yang berada di sepanjang ruas jalan tersebut.
Keberhasilan ini sempat menjadi harapan masyarakat akan akses jalan yang lebih baik, lebih aman, dan nyaman untuk dilalui. Namun kini, kelanjutan proyek masih menunggu kejelasan dari sisi anggaran pemerintah pusat.
Dampak Penundaan Bagi Masyarakat
Penundaan pekerjaan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat yang mengandalkan akses jalan tersebut untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Saat musim hujan tiba, kondisi jalan tanah kerap berlumpur dan sulit dilalui kendaraan, bahkan bisa mengakibatkan isolasi bagi desa-desa yang berada di ujung jalur.
Sri Bintang mengakui bahwa tantangan di lapangan cukup kompleks, namun pihaknya tetap berkomitmen menjaga keberlangsungan fungsi jalan. Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat bisa menjadi kekuatan dalam menyelesaikan persoalan infrastruktur ini.
Harapan untuk 2026: Optimisme Tetap Dijaga
BPJN Kalbar menaruh harapan besar bahwa pada tahun 2026 situasi anggaran akan kembali stabil sehingga proyek peningkatan jalan dapat dilanjutkan. Pihaknya telah menyusun prioritas pekerjaan berdasarkan skala urgensi dan dampaknya terhadap aksesibilitas masyarakat.
“Kami tidak akan menyerah. Begitu ada lampu hijau dari sisi fiskal, pekerjaan akan langsung kami lanjutkan. Ini bukan soal jalan semata, tapi soal kemajuan wilayah dan kesejahteraan masyarakat,” tutup Sri Bintang dengan optimistis.
Budi Gunawan












